Keliling Kampus Dunia: Petualangan Dua Mahasiswa ITB Keliling Kampus Dunia: Petualangan Dua Mahasiswa ITB by Erlangga Ibrahim

My rating: 3 of 5 stars Bagian I dan II mengisahkan perjalanan penulis ke kampus-kampus di berbagai negara, seperti Malaysia, Singapura, Hongkong, Jepang, sampai Korea Selatan. Kehidupan kampus diceritakan dalam kedua bagian ini. Akan tetapi, pada bagian III, kisah yang dituturkan lebih menekankan pada bagaimana perjalanan penulis dari Eropa Barat ke India dengan mengendarai mobil Mazda 323. Kisah-kisah mengenai kehidupan kampus yang disambangi tidak dibahas seperti halnya pada bagian I dan II. View all my reviews >>

Lingkaran Setan

April 25, 2009

Seorang polisi menangkap seorang pemalak yang juga peminum berat. Doi sangat meresahkan masyarakat di sekitarnya.
Polisi: “Kenapa kamu malak?”
Pemalak: “Terus terang, saya malak supaya dapat uang untuk beli Minuman keras.”
Polisi: “Lalu kenapa kamu minum?”
Pemalak: “Supaya dapat keberanian buat malak.”

Mari kita coba dengan objek lain: uang, kerja, dan sekolah.

Bekerja untuk mencari uang.
|
|

Belajar (bersekolah) agar dapat memperoleh pekerjaan yang layak.

|
|

Butuh uang untuk bersekolah.

Kenapa CONTRENG..?

April 9, 2009

Ada yang tahu gak kenapa pemilu sekarang pake CONTRENG, gak COBLOS lagi?
Dalam penghitungan suara kan lebih gampang kalo pake sistem coblos,, tinggal diterawang..
Kalo contreng, meriksanya kan lebih susah tuh..
Meskipun pake tinta yang ‘dianggap’ kontras, tetep aja lebih susah..

Trus kenapa juga istilahnya CONTRENG..?
Apa lema ini ada dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia..
Silakan aja cek di http://pusatbahasa.diknas.go.id/kbbi/index.php..

Seharusnya istilah yang dipakai adalah CENTANG..

cen·tang /céntang/ n tanda koreksi, bentuknya spt huruf v atau tanda cawang;
men·cen·tang v membubuhi coretan dsb pd tulisan (sbg peringatan)

Salah satu komentar (mungkin merupakan jawaban kenapa pemilu sekarang pake CONTRENG) di Kaskus:

Originally Posted by sopier View Post
Gw kemarin sempat nonton tipi ada orang KPU ngejelasin tentang contreng gan. Katanya, KPU ingin merubah kebiasaan orang indonesia yang terbiasa menggunakan kebiasaan menggunakan bahasa tubuh (coblos, tusuk, tikam) menjadi bahasa tulis (contreng, centang, dll).
Biar lebih berbudaya dan manusiawi gitu kali gan…

DPT yang Semrawut

Maret 31, 2009

Dari info yang saya peroleh, untuk pemilu legislatif tidak ada pendataan ulang sebelumnya (setidaknya di daerah saya seperti itu). Kebetulan bapak saya adalah ketua RT, sehingga saya mendapat akses terhadap DPT warga RT. Dan setelah saya cek, rupanya cukup parah juga DPT-nya. Ada yang tercatat 2 kali. Ada nama yang bahkan bapak saya, selaku ketua RT, gak kenal. Dan, yang pasti banyak yang seharusnya punya hak pilih, seperti saya dan kakak perempuan saya, tidak terdaftar. Malahan, kakak laki-laki saya yang sudah pindah kira-kira 3 tahun yang lalu masih terdaftar. Semrawut lah..

Mungkin karena akhir-akhir ini ada temuan-temuan janggal mengenai pemilih ganda, pemilih di bawah usia, pemilih fiktif, dan dugaan penggelembungan DPT di daerah Jawa Timur, untuk pemilu presiden ada pendataan ulang di daerah saya. Entah kalau di daerah yang lain..

Ternyata gak ada nama saya di DPT pemilu 9 april esok..
Untung ato rugi..?

Padahal waktu pemilu kades dulu, saya punya hak pilih untuk digunakan (meskipun pada akhirnya tidak digunakan)..
Lha qo sekarang, buat pemilu legislatif, saya malah gak punya hak pilih..?
Masa diakui sebagai warga desa, tetapi tidak diakui sebagai warga negara..?
WTF..!

Bagaimana dengan Anda?

The Curious Case of Benjamin Button mencuat setelah filmnya dinominasikan untuk banyak kategori dalam Academy Awards ke-81 yang lalu. Film yang dirilis tahun 2008 ini merupakan adaptasi dari sebuah cerita pendek berjudul sama yang ditulis oleh F. Scott Fitzgerald pada tahun 1921.

Sebenarnya saya hanya ingin berbagi sebuah video yang saya peroleh dari TED mengenai penggunaan CGI yang sangat menawan dalam film ini. Meskipun demikian, saya akan menuliskan sedikit keterangan mengenai cerita pendek dan film dari The Curious Case of Benjamin Button.

The Short Story

The Curious Case of Benjamin Button adalah cerita pendek yang ditulis oleh F. Scott Fitzgerald dan diterbitkan untuk pertama kali di majalah Colliers selama tahun 1921. Cerita pendek tersebut diterbitkan dalam sebuah antologi berjudul Tales of the Jazz Age yang sesekali diterbitkan juga dengan judul The Curious Case of Benjamin Button and Other Jazz Age Stories.

The Film

Film The Curious Case of Benjamin Button disutradarai oleh David Fincher dengan penulis skenario Eric Roth dan Robin Swicord, serta dibintangi oleh Brad Pitt and Cate Blanchett. Film ini dirilis di Amerika Serikat pada tanggal 25 Desember 2008.

Film ini dinominasikan untuk 13 kategori dalam Academy Award, termasuk Best Picture, Best Director, Best Actor untuk Brad Pitt, dan Best Supporting Actress untuk Taraji P. Henson. Film ini kemudian meraih tiga Oscar untuk kategori Art Direction, Makeup, dan Visual Effects.

The Technology

Video yang berjudul Ed Ulbrich: How Benjamin Button got his face ini mendokumentasikan presentasi Ed Ulbrich, seorang master efek digital dari Digital Domain, tentang teknologi yang digunakan untuk menghasilkan wajah Brad Pitt dalam usia-usia yang lebih tua secara digital untuk film The Curious Case of Benjamin Button. It’s really cool.

Anda juga dapat melihat dan mengunduh videonya disini.

Presiden Guyonan

Januari 24, 2009

Presiden Guyonan
Presiden Guyonan by Butet Kartaredjasa

My review


rating: 4 of 5 stars
Tidak hanya monolog-nya yang enak didengar dan aksi panggungnya yang menawan, tulisan-tulisan Butet Kartaredjasa sangat menarik dibaca. Contoh nyatanya adalah tulisan-tulisan Butet yang dikumpulkan dalam buku ini –yang menjadi seperti otobiografi, karena penokohan keluarga Mas Celathu diilhami dari keluarga Butet sendiri. Dengan tulisan yang ringan dan dibumbui ‘guyonan’ di sana-sini –meskipun juga dipenuhi kritik sosial– membuat saya ringan untuk melaju dari satu halaman ke halaman lain, dari satu tulisan ke tulisan lain.

Kritik sosial yang disampaikan Butet tidak jauh-jauh dari permasalahan politik dan korupsi. Meskipun demikian, Butet dapat berdiri di sebuah posisi netral dan memberikan kritik secara berimbang. Misalnya di satu tulisan, Butet mengkritik Presiden SBY yang tidak kunjung mewujudkan janjinya saat kampanye pemilu dulu untuk mendirikan Kementerian Kebudayaan, tetapi di tulisan lain Butet membenarkan kemarahan Presiden SBY kepada peserta sidang/rapat yang tidak mengikuti sidang/rapat dengan baik –dimana di banyak media, sikap Presiden SBY ini dianggap showoff.

Banyak istilah dalam bahasa Jawa yang cukup asing, bahkan bagi saya yang juga orang Jawa ini, dipakai dalam tulisan-tulisan Butet dalam buku ini. Untungnya, di bagian belakang buku, terdapat kamus mini yang menerjemahkan istilah-istilah tersebut.

Kesalahan ketik banyak ditemui sepanjang perjalanan saya menyelesaikan buku ini. Tetapi saya kadang-kadang bingung, apakah suatu ‘kejanggalan’ merupakan salah ketik atau memang diniatkan seperti itu, contohnya penggunaan imbuhan ‘ng’ dalam kata ‘semakin’ sehingga menjadi ‘semangkin’. Saya juga kepikiran apa ‘kesalahan’ tersebut karena budaya gaul Jogja yang suka mbolak-mbalik huruf itu, seperti halnya kata ‘matamu’ bisa menjadi ‘dagadu’. ^_^

View all my reviews.