Profesor Samaun Samadikun: Sang Petani Silikon Indonesia

Oktober 8, 2008

Sewaktu jalan-jalan ke Gramedia Solo Square kemarin (6 Oktober 2008), saya menemukan buku ‘biografi’ Prof. Samaun Samadikun yang berjudul “Profesor Samaun Samadikun: Sang Petani Silikon Indonesia”. Mengingat dompet saya baru lumayan tebal karena angpao lebaran beberapa hari sebelumnya, tanpa pikir panjang saya tebus buku berharga Rp 100.000,00 ini. Lagipula, saya juga ingin tahu seperti apa figur ‘legendaris’ (terutama di ITB) yang bernama Prof. Samaun Samadikun itu.

Baru membaca sekitar separuh buku, berbagai perasaan saya alami. Perasaan bangga karena Indonesia pernah memiliki seorang tokoh yang visioner seperti beliau. Kagum karena beliau mendapatkan gelarnya dari Stanford University, sebuah universitas kenamaan di Amerika Serikat (ranking 3 dunia THES 2007 di bidang teknik dan IT, setelah MIT dan UCB). Terkejut karena beliau juga mendapatkan paten di bidang mikroeletronika pada tahun 1975 sebagai penemu (inventor). Kecewa karena Bandung High Tech Valley (BHTV), yang ternyata diprakarsai oleh beliau, belum dapat direalisasikan sampai saat ini. Sedih karena saya belum pernah diajar oleh beliau selama saya menuntut ilmu di ITB.

Bagian isi dari buku ini dibagi ke dalam lima bagian. Bagian pertama mengisahkan secara singkat perjalanan hidup Prof. Samaun. Bagian ini disusun oleh Kinarti Aprilani Soegiarto. Bagian kedua mencantumkan tiga karya Prof. Samaun yang di antaranya adalah “Memorandum Akhir Jabatan Ketua LIPI 1989-1994”. Pada memo tersebut, selain melaporkan perkembangan LIPI selama masa jabatannya, beliau juga mendorong para peneliti Indonesia untuk berkarya, meraih paten, dan berkancah di dunia internasional. Bagian ketiga, yang disusun oleh Dr. Amru Hydari Nazif, memberikan ikhtisar sumbangan-sumbangan beliau untuk kemajuan dunia ilmu pengetahuan Indonesia. Bagian keempat mencantumkan berbagai kesan dan kenangan sejawat, rekan, dan keluarga Prof. Samaun. Beberapa di antara tokoh yang menyumbangkan tulisan merupakan civitas ITB yang saya ‘kenal’, seperti Prof. Sudjana Sapiie (seorang profesor yang juga saya segani), Prof. Armein Z.R. Langi, Ir. Reka Rio, Prof. Adang Suwandi Ahmad, Prof. Tati R. Mengko, Dr. Budi Rahardjo, dan Dr. Onno W. Poerbo. Bagian terakhir, yaitu bagian kelima, menuliskan daftar riwayat hidup dan karya tulis ilmiah Prof. Samaun Samadikun.

Melalui kisah-kisah tentang Prof. Samaun di buku ini, beliau telah menggugah saya untuk selalu berbuat yang terbaik.


mega-mega yang disentuh, pudar karena keagungan kerja,
badai-badai yang ditentang, nyisih karena keagungan jiwa,
tiadalah kebahagiaan, sebesar kebahagiaan selesai kerja,
tiadalah kelapangan, sebesar kelapangan kemenangan jiwa,
dan semua pengabdian diuntukkan bagi keagungan bangsa,
dan semua kelelahan diuntukkan bagi kemuliaan manusia.

(Prof. Samaun Samadikun, “Memorandum Akhir Jabatan Ketua LIPI 1989-1994”)

2 Responses to “Profesor Samaun Samadikun: Sang Petani Silikon Indonesia”

  1. FajarF Says:

    Pinjem donk rie..:mrgreen:

  2. rachavidya Says:

    mas, angkatan berapa?
    elektro jg?
    saya angkatan 2007
    wah,, jadi mau nyari nih buku
    jujur, saya juga penasaran dengan beliau, apalagi saya juga elektronika

    masih ada g yah buku ini d toko buku?


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: