Kentut, Sebuah Tanda Cinta

Agustus 11, 2008

Ada tulisan yang cukup menarik pada rubrik Humaniora harian Kompas hari Sabtu, 9 Agustus 2008. Artikel yang ditulis oleh Butet Kertaradjasa tersebut berjudul Menunggu Capres (Ma’af) Kentut. Yang paling menarik bagi saya bukanlah inti dari artikel itu sendiri, yaitu promosi capres yang hanya menonjolkan kebaikannya saja tanpa menampakkan sedikit pun keburukannya, tetapi bagian prolog dari artikel tersebut. Berikut saya kutipkan bagian artikel yang saya maksud. ^_^

”Bagaimana mengukur kualitas cinta pacar kita?”
”Kalau dia sudah berani (ma’af) kentut di depan kita!”

Guyonan yang beberapa tahun lalu dilontarkan Ashadi Siregar, ahli komunikasi sekaligus penulis novel Cintaku di Kampus Biru ini, rasanya masih terngiang di kuping. Bagi saya, tesis jenaka itu bukan sekadar canda. Jika direnungkan ada kedalaman makna.

Kentut yang dipahami sebagai tabu jika diledakkan di ranah publik, dan selalu ditahan karena dianggap memalukan, kali ini dibiarkan hadir tanpa sungkan. Saya mengartikan, ini adalah wujud kepasrahan, keikhlasan, dan ketelanjangan diri.

Mungkin secara etis nilainya jeblok, tetapi secara kesehatan nilainya 8, dan menurut ”ilmu asmara” nilainya 10. Soalnya, justru ketika rasa malu dan rasa sungkan sudah ditanggalkan, saat itulah sebenarnya totalitas dan keutuhan cintalah yang dihadirkan. Sudah tak ada lagi jarak. Semua sudah hadir polos tanpa menyembunyikan aib dirinya.

Oleh karena itulah, jika sekarang Anda tengah dilanda asmara dan ingin menguji kualitas cinta pasangannya, bangkitkanlah nyali untuk memperlihatkan yang kita sangka sebagai keburukan. Sajikanlah tabu-tabu yang bersifat personal. Biarkan oplosan nitrogen, oksigen, metan, karbondioksida, dan hidrogen yang bersarang di usus kita menjerit nyaring: duuuttt!!! Yakinlah, kentut bisa dipersembahkan sebagai tanda cinta.

4 Responses to “Kentut, Sebuah Tanda Cinta”

  1. Stand steady! Says:

    Yup, betul!
    Saya sangat setuju sekaligus kagum dengan artikel opininya mas Butet. Bisa-bisanya dia membongkar pemahaman kita selama ini seputar kampanye capres dengan bahasa yang jenaka. Pada akhirnya, mas Butet menyadarkan bahwa esensi dari aktivitas politik seperti kampanye ternyata tak lebih dari dialog sandiwara. Sungguh tragis nasib orang-orang yang termakan omongan pada kandidat tersebut tanpa menelusuri lebih jauh sejarah perilaku dan reputasi para calon tersebut.

    Satu hal juga yang menarik ialah prolognya yang sangat memukau. Mungkin ini karena saya sedang termakan api asmara dan kebetulan menyaksikan ekspresi jujur dari sang idola. Hahahahahahaha

  2. Sonia Atika Says:

    Eh, Ari juga punya blog…
    mari kita mengambah dunia blogger.. aku juga punya Ri, soniazone.wordpress.com

  3. Sobungpole.com Says:

    saya sangat setuju sekali dengan kentut tersebut…
    Teori ini super sangat duper mega…
    excellent..
    very nice…
    expensive…
    ada usul nih…
    kayaknya kalo cuman kentut aja masih kurang menunjukkan rasa cinta…kalo udah ditambahin ama beraknya juga baru tambah mantep sekalian posisi jongkok kan bisa keluar dua-duanya tuh…kencing ama air besarnya deh….huahahahahaha…..

  4. Singgid Haruman Wibowo Says:

    Hehehe…
    Jujur aku sempat tertawa saat mataku mulai berputar beratuan membaca rangkaian huruf dari kata-kata didepanku.
    Ucapku tidak ada yang lebih baik daripada memberikan diri yang sebenarnya…
    Hehehe…
    Sebuah gabungan plot teori yang begitu mendasar dan cerdas… maaf jika kata keseluruhan meberikan sikit yang menyakitkan.
    Salam…
    Singgid


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: