Labirin Lazuardi: Langit Merah Saga

November 16, 2007

p1010911.png

Saya mengenal Gola Gong dari novelnya yang berjudul “Balada si Roy”. Saya sendiri mungkin hanya membaca satu dari sekian novel serial “Balada si Roy”. Saya juga lupa bagaimana tepatnya alur cerita dari satu novel yang saya baca itu. Waktu itu, waktu saya masih SD, saya lebih tertarik dengan serial Lupus tulisan Hilman dari sekian banyak novel-novel remaja koleksi kakak saya, termasuk serial “Balada si Roy”. Tapi sekarang, saya jadi ingin membaca serial “Balada si Roy” setelah membaca karya yang paling anyar dari Gola Gong, yaitu serial “Labirin Lazuardi”.

“Namaku Lazuardi. Aku pergi jauh dari rumah karena aku sedang memaknai perjalanan, yang bagiku ibarat labirin. Aku tak tahu kapan harus berhenti.”
(sebuah paragraf yang tercantum pada cover)

Tokoh utama dari serial “Labirin Lazuardi” ini adalah seorang remaja berumur 17 tahunan yang bernama Lazuardi. Tokoh ini menggambarkan seorang remaja yang mengalami kegelisahan, mengenai jati dirinya dan kondisi lingkungan di sekitarnya. Merasa tidak mendapatkan perhatian dari orang tuanya yang seorang politikus berkuasa di negeri ini dan seorang mantan artis terkenal, Lazuardi terseret dalam kehidupan hedonis. Puncaknya adalah ketika Lazuardi dianggap telah meninggal karena overdosis narkoba dan kemudian dibuang ke jurang oleh ketiga sahabatnya. Dikisahkan, seorang kakek berjanggut putih kemudian menyelamatkan Lazuardi. Dari kakek tersebut, Lazuardi mulai mempelajari ilmu agama dan ilmu kehidupan. Dua tahun setelah pertemuan itu, kakek berjanggut putih meninggal dan Lazuardi harus berkelana dan berguru pada kehidupan yang sebenarnya. Disinilah kisah “Labirin Lazuardi” dimulai.

“Langit Merah Saga” merupakan novel pertama dari serial “Labirin Lazuardi” yang direncanakan akan sepanjang enam novel. Pada episode pertama ini, Lazuardi “terdampar” di sebuah perkampungan yang terletak di pinggir rel kereta api. Dikisahkan kehidupan di perkampungan ini ditopang oleh kegiatan meminta-minta dan mengasong di persimpangan rel, serta prostitusi. Ketika matahari masih bersinar, warung-warung menjajakan makanan dan minuman seperti warung pada umumnya, tetapi ketika matahari sudah tenggelam mulailah beterbangan pula kupu-kupu malam di warung-warung itu. Perkampungan dikuasai oleh seorang preman yang meskipun sangat dibenci oleh masyarakat sekitar, tetapi masih saja dituruti. Judi bukanlah barang baru di perkampungan ini. Dan, perkelahian yang seringkali menyertainya juga bukan sesuatu yang asing di sini. Kehidupan di perkampungan ini dieksplorasi dengan sangat baik oleh Gola Gong. Intrik-intrik di antara anggota masyarakat menambahkan kesempurnaan kisah kehidupan masyarakat di perkampungan ini –masyarakat yang hanya bisa memikirkan apa yang dimakan hari ini, tanpa bisa memikirkan apa yang akan dimakan esok hari; masyarakat yang telah melupakan Tuhan; masyarakat yang telah lupa bagaimana cara memohon pertolongan-Nya.

Kisah ini juga diwarnai dengan berbagai peristiwa yang seakan-akan menyindir kondisi bangsa ini. Pada suatu bagian dikisahkan perkampungan dibakar karena menolak penggusuran. Di bagian lain, dikisahkan bagaimana seorang anak yang sakit dari kelurga-tidak-mampu tidak segera mendapatkan bantuan medis karena alasan biaya. Hal itu diperparah dengan sikap pihak rumah sakit yang memprioritaskan urusan biaya dibandingkan dengan urusan keselamatan pasien. Di bagian lain lagi, dikisahkan bagaimana seorang wartawan tidak mengindahkan kode etik jurnalis dengan menerima uang sebagai ganti informasi mengenai nara sumbernya.

Meskipun demikian, novel ini juga masih menyisakan pertanyaan di benak saya. Dikisahkan ada seorang pengurus DKM (Dewan Kemakmuran Masjid) Masjid Agung bernama Mas Latief yang menghuni perkampungan tersebut, tetapi di bagian awal dikisahkan mushala di perkampungan kondisinya tidak terawat, bahkan malahan digunakan sebagai tempat menyimpan barang dagangan si preman, Cak Leman. Bagaimana mungkin itu terjadi? Romantisme Lazuardi dan Inka, wanita sukarelawan palang merah, tidak banyak dieksplorasi oleh Gola Gong, begitu juga dengan kisah adik Inka yang wajahnya mirip dengan Lazuardi.

Overall, “Labirin Lazuardi” adalah kisah tentang bangsa ini dan “Langit Merah Saga” mengisahkan kehidupan perkampungan yang terletak di pinggir rel kereta api. Kehidupan masyarakat di perkampungan itu digambarkan dan dikisahkan dengan sangat baik oleh Gola Gong. Dia mengisahkan banyak peristiwa yang mungkin merupakan sindiran-sindiran atas kondisi bangsa ini. Meskipun demikian, dalam mengisahkan berbagai peristiwa tersebut, penuturannya mengalir dengan sangat mulus. Satu peristiwa menyambung dengan peristiwa yang lain menjadikan kisah (novel) ini sangat asyik untuk dinikmati.

Hidup eta kudu jujur
Kudu nulung kanu butuh
Kudu nalang kanu susah
Nganter kanu sieun
Ulah nyengseurikeun upih ragrag
(hlm. 12)

*udah 3 tahun tinggal di Bandung, gak ngerti Bahasa Sunda juga.. :p

8 Responses to “Labirin Lazuardi: Langit Merah Saga”

  1. keluargapengarang Says:

    Terima kasih sudah membaca novel saya. senang membaca ulasan kamu. jangan kapok, ya, untuk terus baca buku-buku saya. yang terbaru The Journey. salam perknalan. http://www.golagong.com

  2. arie Says:

    @keluargapengarang
    makasih banget, mas, udah mampir dan baca ulasan saya tentang novel mas.. ^_^

  3. Lazuardi Says:

    http://lazuardibirru.org
    entah kenapa blog kami sama dengan judul buku ini ya..!!😀

  4. Mochammad Munir Says:

    Assalamualaikum mas saya pernah membaca Labirin Lazuardi novel mas sangat menyentuh hati saya dan nuansa Religiusnya terasa sekali. Terus lanjutannya apa sudah terbit? Saya tunggu karya-karya lainya, Wassalam.

  5. onny Says:

    assalammu’alaikum…
    novel “labirin lazuardi keren bgt…bener2 mampu mbuat pembaca seolah ada d dalamnya…
    bagaimana klo di filmkan…???

  6. Renny Says:

    Asslamu’alaikum wr. wb.
    Setelah saya baca novel langit merah saga, saya tertarik untuk meneliti novel ini sebagai objek penelitian sekripsi saya. Tapi saya belum tahu arti judul novelnya. Tolong beri saya pengertian atau arti judul novel langit merah saga. Terima kasih atas balasannya.


  7. Ceritanya bener bener bagus🙂
    tapi sayang yang pertama belum baca, lngsung baca yang ke2 dan ke3🙂
    SEMANGAT🙂

  8. ryaan Says:

    askum jujur serialnya bagus bgt pak


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: