PKL dan Depresi

Juli 11, 2007

Petang kemaren, Selasa, 10 Juli 2007, lagi-lagi saya mendapati pedagang kaki lima (PKL) yang berderet mangkal di jembatan penyeberangan (busway) Bendungan Hilir (Benhil). Kenyamanan pejalan kaki lagi-lagi terganggu. Belum lagi kalo ada calon pembeli yang tanpa sungkan berjongkok di depan lapak seorang PKL. Semakin sempit saja ruang bagi pejalan kaki.

Petang itu, saya melihat beberapa orang melihat-lihat barang yang ditawarkan PKL. Sejauh yang saya amati ada yang melihat-lihat casing HP, ada yang melihat-lihat buku mewarnai untuk anak-anak, dan ada pula yang memilih-milih jepit (tali pengikat) rambut. Dan saya pikir, banyaknya konsumen PKL merupakan salah satu faktor utama penyebab banyaknya PKL yang mangkal di tempat ini. Ada gula ada semut. Sebuah tempat yang mampu menghasilkan keuntungan akan diserbu pencari untung (baca: pedagang). Konsekuensi logis kan?

Sejujurnya ketika saya masih di halte busway pun, saya sudah dapat menebak kalo saya akan menemui suasana jembatan seperti hari-hari sebelumnya. Apakah cuma tebakan yang kebetulan benar? Nope.. Saya tau akan menemui hamparan dagangan PKL lagi karena tidak terlihat adanya mobil Polisi PP di sekitar situ. Dan sebagian masyarakat kita masih tidak sadar pentingnya ketertiban dan menjaga (tidak melanggar) hak orang lain. Sebuah artikel menarik saya temukan di situs kantor berita Antara, berikut kutipannya.

Jakarta (ANTARA News) – Survei yang dilakukan Persatuan Dokter Spesialis Kesehatan Jiwa (PDSKJ) menyebutkan sekitar 94 persen masyarakat Indonesia mengidap depresi dari mulai tingkat ringan hingga paling berat.

“Sekarang ini disinyalir kesehatan mental bangsa ini sudah sangat rendah, kawan-kawan dari PDSKJ melakukan penelitian yang menyebutkan 94 persen masyarakat Indonesia mengidap depresi ringan sampai berat. Itu angka yang sangat besar,” kata Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Fachmi Idris usai bersama pengurus IDI yang baru menemui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di Kantor Presiden Jakarta, Rabu.

Fachmi menyebutkan contoh dari sikap depresi masyarakat antara lain terlihat pada ketidakkepatuhan terhadap peraturan yang berlaku.


Satu hal yang menarik dari artikel ini adalah pernyataan Ketua IDI bahwa seorang yang depresi cenderung melanggar peraturan. Dapat kita lihat sendiri bahwa banyak pelanggaran peraturan yang terjadi di masyarakat kita. Mungkin terlalu banyak peraturan yang “biasa” dilanggar, peraturan lalu lintas, peraturan berkenaan kelengkapan kendaraan bermotor, peraturan merokok hanya di tempat yang telah disediakan, peraturan membuang sampah pada tempatnya, dan banyak peraturan yang lain. Untuk PKL yang mangkal di tempat yang seharusnya bukan merupakan tempat untuk berdagang, sebut saja mereka melanggar aturan berkenaan berdagang di tempat umum. (adakah?)

Mengesampingkan permasalahan responden yang mungkin tidak dapat mewakili seluruh Indonesia, 94 persen merupakan angka yang sangat besar. Bayangkan, hanya 6 orang dari 100 responden yang dinyatakan tidak mengalami depresi. Mungkinkah saya sebenarnya juga mengalami depresi? Semoga saja tidak..

Kaki terus melangkah ke arah persimpangan Pasar Benhil.. Di sudut persimpangan, saya melihat kembali lapak milik ibu separuh baya yang kemaren petang susah payah “mengamankan” barang dagangannya dari tangan petugas pamong praja.. Di tempat yang sama.. Dengan kotak coolbox Sosro berwarna oranye yang sama..

12 Responses to “PKL dan Depresi”

  1. Fajar Says:

    ah pkl lagi

    cerita klasik

    saya bilang juga apa

    tanpa tindakan tegas hasilnya akan 0 kecil

  2. arie Says:

    ho oh..

    0 kecil ato 0 besar, Jar? :p

  3. irvan132 Says:

    yang namanya juga berdagang. ga mengenal waktu dan tempat.

    -IT-

  4. arie Says:

    tapi gak boleh ngelanggar hak orang lain dong, termasuk hak untuk mendapatkan kenyamanan di tempat umum..

  5. arif Says:

    pedagangnya memang busuk, tapi yang lebih busuk lagi adalah aparatnya yang membiarkan mereka jualan di situ. apalagi kalo sampai narik pungli

  6. arie Says:

    jadi inget polisi2 yang sering ‘mampir’ di pedagang yang mangkal di depan Salman.. :))

  7. Fajar Says:

    apalagi yang nulis ini

    busuk nya gak bisa diungkapkan dengan kata2

    *kaboer*

  8. arie Says:

    flaming nih anak..

  9. ridwan Says:

    kayaknya sampe matahari terbit dari barat watak jelek bangsa indonesia ini ga akan ilang, ya aparatnya, ya pedagangnya, ya yang stressnya..:(

  10. Wildan Says:

    kayanya gw depresi deh.. ati-ati aja. Wakakakak…

  11. firman Says:

    halo, salam kenal….

    wakakaka!

  12. arie Says:

    sesama depresi ni ceritanya?

    wakakaka..


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: