Balada PKL dan Polisi PP

Juli 10, 2007

Petang kemarin, Senin, 9 Juli 2007, ada suasana yang berbeda di jembatan penyeberangan (busway) Bendungan Hilir (Benhil). Tidak seperti biasanya, jembatan terlihat lebih lega sehingga orang-orang dapat berjalan dari arah yang berlawanan dengan sama lancarnya. Ternyata sejauh mata memandang tak terlihat adanya pedagang-pedagang kaki lima (PKL) yang biasa mangkal di situ. Pedagang aja kabur, apalagi peminta-minta (pengemis) yang biasanya juga ikut mangkal di situ. Jadi penasaran apa yang terjadi sore itu..

Setelah cukup jauh melangkah mendekati ‘pintu keluar’ jembatan, baru deh keliatan penyebab semua kenyamanan petang itu. Sebuah mobil Polisi Pamong Praja (PP) terparkir di bawah jembatan. Dan benar saja, tidak ada satu pun pedagang kaki lima terlihat di bawah jembatan.

Petang itu juga, terlihat pemandangan yang cukup menarik bagi saya. Mobil tersebut bergerak ke persimpangan Pasar Benhil dan berhenti di sana. Seorang ibu paruh baya terlihat susah payah menarik kotak coolbox dagangannya. Raut wajahnya sudah pucat pasi seakan-akan barang dagangannya sudah diangkut oleh polisi PP. Di kejauhan terdengar teriakan-teriakan para sopir ojek yang mangkal di persimpangan itu. “Bawa aja..” “Angkut aja..” Tapi, para petugas itu cuma melihat saja — melihat ibu itu dengan panik memindahkan barang-barangnya. Jadi, siapa bilang mereka selalu pakai kekerasan dalam operasinya? Saya rasa, mereka juga selalu meminimalisir dipakainya kekerasan dalam operasi mereka kok. Masa sih mereka tidak punya nurani..? Tidak punya rasa belas kasihan..? Mungkin ketika pedagang sudah tidak bisa lagi diperingatkan, barulah mereka ber-“aksi”. Kalau sudah begitu Polisi PP-lah yang kena getahnya, image mereka di mata masyarakat akan semakin buruk saja. Tapi, mau gimana lagi? Media massa seperti TV ataupun koran hanya menyoroti para pedagang yang berteriak-teriak tentang ketidakadilan dan mengabadikan tindakan kekerasan yang harus dilakukan petugas. Apapun, petugas juga manusia, bung. Mereka tidak nyaman jika selalu dikecam.

Dari sudut pandang pribadi, di satu sisi, saya kasihan pada pedagang-pedagang seperti ibu separuh baya tadi. Sudah susah hidup di Jakarta yang katanya serba mahal ini, dikejar-kejar petugas pula. Tapi di sisi lain, saya melihat Jakarta akan lebih nyaman tanpa adanya PKL yang mangkal di sembarang tempat. Parahnya, kebanyakan dari mereka mengganggu kenyamanan umum. Bayangkan saja apa yang biasa terjadi di jembatan penyeberangan Benhil. Pedagang-pedagang kaki lima yang mangkal menguasai satu lajur sepenuhnya. Satu lajur yang seharusnya digunakan pejalan kaki dari satu arah saja, harus dilalui pejalan kaki dari dua arah yang berlawanan. Tidak bebasnya ruang gerak menyebabkan pejalan kaki menjadi cenderung berdesak-desakan. Dan di situasi seperti itu, sangat rentan terjadi pencopetan. Benar-benar sebuah efek domino yang panjang.

Meskipun saya sendiri cuma sementara tinggal di Jakarta, saya sendiri mengharapkan perubahan di ibukota negara ini. Semoga saja pilkada DKI yang akan berlangsung tanggal 8 Agustus 2007 besok mampu memunculkan seorang pemimpin yang benar-benar bisa memperbaiki Jakarta. Amin..

6 Responses to “Balada PKL dan Polisi PP”

  1. Fajar Says:

    sekarang begini…

    jika tidak dikeraskan atau diambil tindak tegas maka hal2 seperti diatas akan bermunculan bak jamur yang gak ada habisnya, setelah ditegor ya mungkin besok atau lusa dia akan menggelar dagangannya kembali di tempat yang tidak seharusnya, mungkin salah satu solusinya “angkut aja”

  2. arie Says:

    yup.. tindak kekerasan kadang-kadang emang diperlukan karena tindak kekerasan cenderung berefek jera pada ‘korban’ (baca: pedagang).. tapi, seperti yang saya bilang sebelumnya, kekerasan akan berdampak buruk pada image petugas.. dan petugas juga manusia.. gak mau dikecam.. ^_^

    kaya’nya media massa harus bisa jadi penengah.. mereka harus bisa memandang suatu permasalahan dari sudut yang adil.. dalam hal ini, memberikan porsi bagi petugas dan pedagang sama besarnya..

  3. Fajar Says:

    nah itulah ……

    kenapa indonesia kagak maju2
    seperti buah si malakama
    kalo dikerasin image jelek
    kalo lembek pedagangnya keenakan

    so solusinya…..

  4. arie Says:

    mungkin blog2 kaya punya kamu itu yang bisa mengubah cara pandang masyarakat.. siap gak kmu, Jar? ^_^

  5. Fajar Says:

    mengubah menjadi terjerumus iya blog gw

    pasang lah itu gravatar-nya

  6. arie Says:

    terjerumus ke dalam kebaikan kan bagus.. ^_^

    ntar lah.. :p


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: