Presiden Guyonan
Januari 24, 2009

Presiden Guyonan by Butet Kartaredjasa
My review
rating: 4 of 5 stars
Tidak hanya monolog-nya yang enak didengar dan aksi panggungnya yang menawan, tulisan-tulisan Butet Kartaredjasa sangat menarik dibaca. Contoh nyatanya adalah tulisan-tulisan Butet yang dikumpulkan dalam buku ini –yang menjadi seperti otobiografi, karena penokohan keluarga Mas Celathu diilhami dari keluarga Butet sendiri. Dengan tulisan yang ringan dan dibumbui ‘guyonan’ di sana-sini –meskipun juga dipenuhi kritik sosial– membuat saya ringan untuk melaju dari satu halaman ke halaman lain, dari satu tulisan ke tulisan lain.
Kritik sosial yang disampaikan Butet tidak jauh-jauh dari permasalahan politik dan korupsi. Meskipun demikian, Butet dapat berdiri di sebuah posisi netral dan memberikan kritik secara berimbang. Misalnya di satu tulisan, Butet mengkritik Presiden SBY yang tidak kunjung mewujudkan janjinya saat kampanye pemilu dulu untuk mendirikan Kementerian Kebudayaan, tetapi di tulisan lain Butet membenarkan kemarahan Presiden SBY kepada peserta sidang/rapat yang tidak mengikuti sidang/rapat dengan baik –dimana di banyak media, sikap Presiden SBY ini dianggap showoff.
Banyak istilah dalam bahasa Jawa yang cukup asing, bahkan bagi saya yang juga orang Jawa ini, dipakai dalam tulisan-tulisan Butet dalam buku ini. Untungnya, di bagian belakang buku, terdapat kamus mini yang menerjemahkan istilah-istilah tersebut.
Kesalahan ketik banyak ditemui sepanjang perjalanan saya menyelesaikan buku ini. Tetapi saya kadang-kadang bingung, apakah suatu ‘kejanggalan’ merupakan salah ketik atau memang diniatkan seperti itu, contohnya penggunaan imbuhan ‘ng’ dalam kata ’semakin’ sehingga menjadi ’semangkin’. Saya juga kepikiran apa ‘kesalahan’ tersebut karena budaya gaul Jogja yang suka mbolak-mbalik huruf itu, seperti halnya kata ‘matamu’ bisa menjadi ‘dagadu’. ^_^
Back “Europe” Pack: Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar
Januari 21, 2009

Back “Europe” Pack: Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar by Marina Silvia K.
My review
rating: 2 of 5 stars
Catatan perjalanan yang menarik. Kisah-kisahnya dari berbagai kota dan budaya yang mengungkap keberagaman orang-orang yang hidup di tengah masyarakat kota dan budaya tersebut.
Sayangnya, layout buku kurang apik. Seringnya penggunaan foto (yang di-grayscale) sebagai background dari teks hitam membuat saya tidak nyaman dalam membaca. Akhirnya seringkali saya harus melewatkan bagian teks tersebut, entah isinya menarik atau tidak.
Usagi Yojimbo, Buku 3: Antara Hidup dan Mati
Januari 7, 2009
Usagi Yojimbo, Buku 3: Antara Hidup dan Mati by Stan Sakai
My review
rating: 3 of 5 stars
Petualangan Usagi Yojimbo berlanjut, dari membantu para petani kaiso (ganggang) sampai menumpas makhluk gaib. Saya sendiri paling suka dengan kisahnya bersama para petani kaiso. Meskipun tidak sarat aksi pertempuran, saya belajar banyak tentang pertanian kaiso. Selain itu, kisah hidup Inazuma yang dituturkan pada Usagi juga cukup menarik perhatian (simpati). ^_^
The Book Of Lost Things
Januari 7, 2009
The Book Of Lost Things by John Connolly
My review
rating: 4 of 5 stars
Singkatnya, novel fantasi ini menuturkan sebuah dongeng yang suram. Sebuah dongeng yang di dalamnya tertuang dongeng-dongeng yang sebelumnya sudah kita kenal dengan “sedikit” perubahan kisah. Dongeng seperti Putri Salju dan Gadis Bertudung Merah pun tak luput dari modifikasi “gila” Connolly. Meskipun demikian, saya beberapa kali tersenyum, bukan dengan hasil modifikasi yang menghasilkan kisah cukup “aneh” dan seram, tetapi dengan bagaimana Connolly bisa memodifikasi kisah asli menjadi seperti apa yang tertuang di novel ini. ^_^
Dongeng-dongeng klasik yang sudah dimodifikasi tersebutlah yang menghiasi kisah perjalanan seorang anak bernama David. Sebuah perjalanan yang telah mengubah ’seorang anak frustrasi yang tidak bisa menerima kenyataan bahwa ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi, dan memiliki adik tiri’ menjadi seorang ‘ksatria’. ^_^
“… David tidak menyadarinya, tapi kedua makhluk ini boleh dikatakan adalah rasa takutnya sendiri, dan dia pula yang telah memberi wujud pada mereka.”
— hlm. 417






