Happy New Year 2009!

Januari 1, 2009

Tahun sudah berganti.. Dari 2008 menjadi 2009..

Semoga keberuntungan masih dan semakin menaungi di perjalanan tahun mendatang..

Dan, keberuntungan tidak akan mengunjungi orang-orang yang malas..

So, work hard and always do the best..! ^_^

*Merayakan pergantian tahun di depan laptop, sambil mendengar meriahnya teriakan kembang api yang bersahutan di luar sana.. :)

Hello, Chicago.

If there is anyone out there who still doubts that America is a place where all things are possible; who still wonders if the dream of our founders is alive in our time; who still questions the power of our democracy, tonight is your answer.

Read the rest of this entry »

Sejak beberapa hari yang lalu punya rencana nonton UGM-Mandiri Jazz 2008 besok Sabtu, 18 Oktober 2008..
Tapi, kemaren dapet kabar dari temen kalo tiketnya udah ludes..
Yah, batal nonton deh..

*Kirain bakal bisa beli tiket di venue-nya langsung..

Sabtu, 2 Agustus 2008, yang lalu, saya, bersama papa dan mama, menghadiri sebuah pertunjukan bertajuk Sendratari Mahakarya Borobudur di Panggung Aksobya, yang terletak di lingkungan objek wisata Candi Borobudur. Pertunjukan yang didukung oleh ratusan penari dari ISI Surakarta dan komunitas-komunitas seni Magelang ini merupakan puncak kegiatan dari Festival Borobudur yang telah dilaksanakan sejak seminggu sebelumnya. Festival Borobudur ini sendiri merupakan festival kebudayaan yang dilaksanakan setiap tahun dengan dukungan penuh dari komunitas-komunitas seni yang ada di wilayah Magelang. Selain itu, festival ini mendukung program Visit Indonesia 2008.

Sendratari ini mengisahkan proses pembangunan Candi Borobudur. Kisah dimulai dengan menceritakan kehadiran Rakai Panangkaran, seorang tokoh spiritual, untuk mengajarkan jalan kehidupan yang baik. Ajaran tersebut dapat direpresentasikan dalam bangunan batu berundak (candi) yang berisi ajaran hidup Kamadhatu, Rupadhatu, dan Arupadhatu. Raja Samaratungga, dengan dukungan seluruh rakyat, kemudian mewujudkan bangunan batu berundak tersebut, yang kemudian dikenal sebagai Candi Borobudur.

Yang cukup menarik bagi saya adalah penggunaan hewan ternak hidup dalam menggambarkan kehidupan masyarakat waktu itu. Lucunya, ada beberapa kambing yang ngambek di tengah arena pertunjukan, sampai-sampai orang yang menariknya (baca: gembalanya) kebingungan menariknya ke luar arena pertunjukan. Selain itu, ada gembala bebek betulan yang dilibatkan. Sang bapak gembala bebek yang sudah cukup berumur ini hanya mengenakan celana pendek dengan sarung terselempang di pundaknya. Sambil merokok beliau mengendalikan bebek-bebeknya yang kadang-kadang berusaha lari ke arah penonton. Ulah hewan-hewan ini juga sering memancing gelak tawa penonton yang sebagian besar merupakan turis mancanegara. Sayangnya, saya tidak berhasil mengabadikan momen-momen ini dengan baik.

Setting pencahayaan terhadap Candi Borobudur yang terletak di bagian belakang panggung menambah keindahan dari sendratari yang ditampilkan.

Sayangnya, dari informasi yang saya dapat, pertunjukan ini tidak mendapat dukungan dari Dinas Pariwisata, dalam arti pihak dinas tidak terlibat langsung dalam kegiatan ini. Padahal, pertunjukan ini sangat jelas mendukung program Visit Indonesia 2008 yang dicanangakan oleh pemerintah dan sejauh pengamatan saya, banyak sekali turis mancanegara yang menghadiri pertunjukan ini. Mereka sangat excited dengan pertunjukan budaya seperti ini. Bahkan, di akhir pertunjukan, mereka berebut untuk berfoto bersama para penari.

Pembantaian

Juni 27, 2008

Ups.. Mikirnya jangan kejauhan.. Saya masih pengen ngomongin tentang Sidang Tugas Akhir (STA) yang kemaren sudah saya tempuh.. Entah mengapa, istilah ‘pembantaian’ cukup familiar dengan STA.. Dan, setelah STA saya juga sempat ‘diwawancara’ oleh adik angkatan dan muncul pertanyaan “Dibantai gak, mas?”.. Saya sendiri lupa redaksinya gimana, tapi inti dari pertanyaan gak jauh-jauh dari itu..

ban·tai n daging (binatang yg disembelih);
mem·ban·tai v 1 menyembelih; memotong: ia – seekor lembu untuk selamatan tujuh hari ayahnya; 2 merusakkan: air bah telah – habis padi yg sedang menguning di sawah; 3 memukuli kuat-kuat: ia telah – kepala pencuri itu dng tongkat ruyungnya; 4 ki membunuh secara kejam dng korban lebih dr seorang: para gerilyawan – semua laki-laki di desa itu;
ban·tai·an n 1 landasan untuk menyembelih; 2 binatang untuk disembelih; binatang sembelihan: sapi -; kerbau -;
pem·ban·tai n 1 orang yg pekerjaannya membantai atau menyembelih binatang; tukang bantai; 2 ki pembunuh;
pem·ban·tai·an n 1 proses, cara, perbuatan membantai; penyembelihan; pemotongan; 2 tempat menyembelih (sapi, kerbau, dsb); pejagalan; 3 ki pembunuhan secara kejam dng korban lebih dr seorang

Dari definisi kata ‘bantai’ yang saya ambil dari Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) di atas, tidak ada satu pun pernyataan yang menghubungkan kata ini dengan STA, atau di universitas lain akrab dengan sebutan pendadaran. Mungkin dapat diambil makna kiasannya, yaitu ‘pembunuhan secara kejam dng korban lebih dr seorang’. (Untungnya) di sebuah STA tidak ada yang dibunuh, ya maksimal ‘dibunuh’ (lagi-lagi perlu cari makna kiasannya).. Tapi, ada yang gak sesuai pada poin lebih dari seseorang.. Kalau STA kan yang disidang (yang ‘dibunuh’) cuma seorang. Hahaha.. Kaya’nya penjelasan ini gak penting banget.. :P

Kalau boleh saya berbagi cerita, momen dimana saya merasa paling tegang karena merasa tersudut adalah ketika menghadapi argumen dari Dr. Ing. Suhardi.. Komentar beliau yang mempertanyakan metode ekstraksi data saya dan argumen beliau mengenai metode ekstraksi data lain yang lebih baik sempat membuat saya berpikir ‘Wah, kebantai nih’.. Pada akhirnya, saya hanya dapat menyepakati argumen beliau karena secara logis metode-metode lain yang beliau sebutkan mungkin lebih baik.

Setelah STA berakhir pun, saya masih sempat terbayang momen-momen tersebut.. Akan tetapi, setelah saya renungkan kembali, pertanyaan-pertanyaan yang sangat kritis dari para penguji lah yang akan membuat Tugas Akhir (TA) saya lebih sempurna. Dari STA tersebut, saya kemudian dapat menambahkan beberapa poin yang mungkin bermanfaat bagi orang-orang yang tertarik dengan apa yang telah saya kerjakan dan mungkin ingin melanjutkan penelitian yang telah saya lakukan.

Sekedar positive thinking saja.. Di satu sisi, pertanyaan-pertanyaan kritis dari para penguji terkadang memberi perasaan tertekan, tersudut, atau pun terintimidasi bagi peserta sidang. Akan tetapi di sisi lain, pertanyaan-pertanyaan ini lah yang pada akhirnya bermanfaat kepada lebih banyak orang melalui perkembangan ilmu dan teknologi yang nantinya mengikuti pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Saya sendiri sih juga berharap TA yang saya kerjakan selama 1 tahun ke belakang ini bermanfaat, setidaknya bagi orang-orang yang membacanya.. Di antaranya, pembimbing saya dan para penguji saya.. :mrgreen:

Oiya, mungkin ada yang mau nambahin definisi kata pembantaian (yang berhubungan ma STA) di KBBI? :P